Ingin tahu bagaimana mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam melunasi hutang-hutangnya yang jatuh tempo tidak lebih dari satu tahun kedepan? Salah satu cara cepat yang biasa digunakan adalah dengan melakukan analisa terhadap berbagai angka yang ada pada laporan keuangan. Artikel ini bagi anda yang ingin mengetahui lebih jauh tidak hanya berhenti pada rumus penghitungan saja.


Ingin mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang-hutang jangka pendeknya? Pertanyaan selanjutnya adalah: melunasi hutang-hutang jangka pendek tersebut menggunakan apa? Apakah pelunasan diasumsikan akan menggunakan kas dan piutang, ataukah menggunakan kas, piutang dan persediaan atau mungkin malah asumsi pelunasan hanya dengan kas dan setara kas saja?, atau atas semua variasi pembayaran atau pelunasan akan dilakukan penghitungan rasionya? Tetapkan di awal.

Penting untuk diketahui bahwa pada kesempatan kali ini Excelku hanya akan fokus pada pengukuran tingkat kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya melalui aktiva lancar yang dimilikinya dengan cara membandingkan nilai Aktiva Lancar dengan Kewajiban Lancarnya. Pembandingan keduanya ini dinamakan Current Ratio. Untuk diketahui, Current Ratio merupakan Top 5 rasio yang paling sering digunakan dalam menganalisa laporan keuangan.

Current Ratio atau dikenal juga dengan sebutan Rasio Lancar adalah perbandingan nilai Aktiva Lancar dengan suatu nilai Kewajiban Lancar yang ada pada suatu laporan keuangan perusahaan.

Rumus Current Ratio

Current Ratio = Current Assets / Current Liabilities

Dari rumus tersebut dapat dibaca bahwa Current Ratio digunakan dalam rangka memberikan gambaran tentang kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya (hutang & pinjaman) dengan menggunakan aktiva lancar (kas, piutang, persediaan) yang dimilikinya. Current Assets atau Aktiva lancar adalah suatu harta yang diharapkan dapat direalisasi menjadi uang kas dalam waktu tidak lebih dari satu tahun kemudian. Current Liabilities atau Kewajiban Jangka Pendek adalah suatu kewajiban (misal berupa hutang usaha ataupun hutang bank) yang jatuh tempo dalam waktu tidak lebih dari satu tahun kemudian.

Hasil perbandingan antara Current Assets dengan Current Liabilities dapat diterjemahkan dalam bentuk angka maupun persentase.

Secara umum: Current Ratio yang lebih besar berarti lebih baik, begitu juga sebaliknya.

Dengan aktiva lancar yang lebih besar berarti semakin bertambah kemampuan suatu perusahaan dalam membayar berbagai kewajiban lancarnya. Bila didapat Current Ratio kurang dari 1 maka apabila hutang jatuh tempo pada waktu itu maka perusahaan tidak dapat melunasi hutangnya dengan aktiva lancar yang dimilikinya. Meskipun begitu, bukan berarti perusahaan tidak dapat melunasi seluruh hutang-hutangnya karena perusahaan dapat juga mendapatkan dana untuk melunasi hutang tersebut dengan mencari pinjaman lainnya.

Apakah mempunyai Current Ratio yang lebih besar berarti selalu lebih baik?

Tidak selalu, Meski bagi kreditur (misal Bank) Current Ratio yang besar dipandang lebih baik.  Namun bagi pemegang saham Current Ratio yang besar dapat diindikasikan adanya cash dengan jumlah signifikan yang dibiarkan tidak produktif. Atau mungkin terdapat persediaan dalam jumlah besar yang tidak terjual dan malah sebentar lagi kadaluwarsa. Dan berbagai kemungkinan jelek lainnya. Bagi pemegang saham yaitu pihak yang ingin perusahaan terus maju dan berkembang belum tentu selalu menginginkan current ratio yang besar.

Membandingkan Current Ratio dengan Current Ratio dari industri sejenis lainnya

Tinggi atau rendahnya suatu rasio tidak akan lebih bermakna apabila tidak membandingkannya dengan industri sejenis. Masing-masing industri mempunyai tingkat kewajarannya tersendiri, ada yang wajarnya tinggi ada pula sebaliknya lebih rendah. Misalnya suatu industri manufaktur tradisional relatif mempunyai current ratio yang relatif tinggi karena pabrik harus menahan persediaan barang jadi, bahan baku, dan persediaan dalam penyelesaian. Dan sangat mungkin produk dijual dengan sistem kredit sehingga menaikkan saldo piutang pada laporan keuangan. Berbeda halnya dengan suatu usaha dengan perputaran persediaan yang cepat dengan penjualan secara tunai, tipe perusahaan seperti ini wajar bila mempunyai Current Ratio yang lebih rendah.

Membandingkan dengan industri sejenis lainnya saja tidak cukup

Meskipun telah didapatkan data pembanding dengan industri yang sama persis namun sampai sini tidaklah cukup. Ada berbagai pertanyaan yang perlu dijawab untuk dapat meyakinkan apakah kita sedang membandingkan apple to apple. Misal: Perusahaan yang dibandingkan rasionya apakah menggunakan standar pelaporan dan metode akuntansi yang sama? Local GAAP, IFRS, FIFO, LIFO, dan sebagainya perlu dipertimbangkan lebih jauh.

Seberapa Relevan dan Reliable-kah Laporan Keuangan yang Menjadi Dasar Current Ratio?

Meski hitungan sudah didapatkan dan rasio pembanding dari industri sejenis sudah didapat, ada hal yang tidak boleh dilewatkan sebelum menginterpretasikan Current Ratio. Rasio merupakan hasil perbandingan suatu angka yang ada pada laporan keuangan. Waspada terhadap angka-angka yang dijadikan dasar dalam penghitungan rasio lancar ini. Misal ada piutang tidak lancar namun belum dicadangkan. Bila dasar penghitungan (angka laporan keuangan) tidak sejalan dengan roh-nya rasio maka hasil rasio pun dapat menyesatkan. Bahkan meskipun laporan keuangan sudah disusun sesuai prinsip akuntansi yang diterima umum itupun belum cukup, setepat-tepatnya laporan keuangan disusun tetaplah mempunyai kekurangan. Satu contoh sederhana misalkan menggunakan hasil Current Ratio atas laporan keuangan 3 bulan yang lalu mungkin sudah tidak relevan lagi digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk saat ini karena kondisi bisa jadi sudah berubah.

Penutup

Demikianlah yang dapat admin Excelku.com sampaikan tentang beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam rangka Memahami Analisa Current Ratio Atas Laporan Keuangan. Banyak hal yang tidak dapat disampaikan dalam postingan yang singkat ini, saya menerima dengan senang hati apabila anda mau menambahkannya dengan mengisi kolom komentar di bawah ini. Rasio keuangan hanyalah salah satu alat yang digunakan untuk mendeteksi apakah suatu perusahaan itu “sehat” atau “tidak sehat”. Dengan menganalisa laporan keuangan diharapkan pula dapat mengetahui adanya suatu masalah atau issue yang perlu selesaikan atau diperbaiki. Faktor-faktor lain di luar angka-angka laporan keuangan juga patut dipertimbangkan untuk mengetahui likuid tidaknya suatu perusahaan. Akhirnya judgment dari andalah sebagai pengambil keputusan yang menentukan.